
KETAPANG, MENITNEWS.ID – Saat ini Ketapang berada di zona kuning penyebaran Covid-19. Pembelajaran tatap muka (PTM) diusulkan untuk dilakukan pada tahun ajaran 2021/2022. Namun, PTM yang diusulkan masih sangat terbatas. Sekolah-sekolah yang akan melaksanakan PTM juga harus menyiapkan sarana penerapan protokol kesehatan.
Guna mendukung rencana PTM di tahun ajaran baru, Bupati Ketapang, Martin Rantan, meminta kepada seluruh guru, khususnya guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), agar mau mengikuti program vaksinasi massal. Jika ada guru yang secara syarat sudah memenuhi untuk divaksi namun menolak untuk divaksin, maka akan diberikan sanksi.
“Vaksin untuk pelajar yang usia 12-17 tahun masih dalam proses, belum tersedia saat ini. Tapi berdasarkan informasi akan disesiakan dalam waktu dekat, sehingga pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan,” kata Martin, belum lama ini.
“Khusus untuk anak SD, kita akan perintahkan gurunya dulu untuk divaksin. Gurunya harus sehat dulu, biar anak bisa mengikuti pembelajaran. Kasihan juga anak-anak SD tidak bisa membaca karena tidak ada pembelajaran tatap muka,” lanjut Martin.
Bagu guru yang tidak mau divaksin, padahal memenuhi syarat untuk divaksin, maka akan disanksi. “Guru tersebut juga tidak boleh mengajar, atau kalau memang tidak mau sama sekali karena ini menyangkut urusan kemanusiaan, maka akan kita tahan gajinya. Tidak usah dibayar. Ini tegas, karena bisa berakibat pada bencana kemanusiaan,” tegasnya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Ketapang telah mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Ketapang, untuk pelaksanaan PTM terbatas pada tahun ajaran baru 2021/2022. Hal itu dilakukan mengingat Kabupatej Ketapang sudah berada di zona kuning penyebaran Covid-19 dan 59 persen sekolah sudah siap untuk PTM.
Sekretaris Dinas Pendidikan Ketapang, Uti Royten, mengatakan pihaknya mengusulkan untuk pelaksanaan PTM pada tahun ajaran baru ini. “Kita tinggal menunggu hasil rapat tim Satgas Covid-19 Ketapang saja,” kata Royten.
PTM terbatas di Ketapang, direncanakan dimulai 21 Juli 2021. Sementara saat tahun ajaran baru, metode daring yang akan dilaksanakan mulai 12 Juli-20 Juli. “Pada PTM terbatas, siswa hanya datang ke sekolah dua hari dalam seminggu. Mereka akan berada di kelas selama dua jam. Di mana guru hanya akan menjelaskan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan secara mandiri di rumah di hari mereka tidak ke sekolah,” jelas Royten.
Kehadiran siswa ke sekolah dengan penjadwalan dengan tujuan agar tidak terjadi penumpukan siswa. Di mana kelas hanya terisi 50 persen dari jumlah siswa, sehingga setiap kelas akan ada dua shif kedatangan siswa. “Jadi jangan dibayangkan PTM terbatas ini seperti sekolah sebelum pandemi,” ungkapnya.
Dia menambahkan, PTM terbatas untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dengan sistem daring, yang selama ini banyak dikeluhkan. Jika PTM terbatas diterapkan, sejalan dengan makin membaiknya zona per kecamatan, maka akan dapat memasuki kegiatan belajar mengajar seperti biasa. (*)
