
KETAPANG, MENITNEWS.id — Menjelang pergantian tahun 2026, persoalan kelangkaan Gas LPG 3 kg (gas melon) kembali mencuat dan menjadi keluhan serius masyarakat kecil di pusat kota Ketapang. Alih-alih menyambut suasana Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan tenang, warga justru dibuat resah oleh hilangnya gas bersubsidi yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku usaha mikro.
Ijul, pedagang gorengan di Jalan Sepakat, Kelurahan Sampit, Kecamatan Delta Pawan, menjadi salah satu yang paling terdampak. Sudah sepekan terakhir ia lebih banyak menghabiskan waktu berkeliling mencari gas daripada melayani pembeli.
“Saya benar-benar kewalahan. Gas melon sudah satu minggu ini susah dicari. Di Sepakat ini pangkalan gas banyak, tapi barangnya tidak ada untuk kami,” keluhnya, Jumat (12/12/2025).
Bagi pedagang kecil seperti Ijul, kelangkaan gas bukan sekadar gangguan operasional, melainkan ancaman langsung terhadap sumber penghidupan. Ironi ini semakin menyesakkan karena terjadi di tengah deretan pangkalan yang justru tidak mampu menyediakan pasokan untuk warga sekitar.
Kelangkaan ini memicu spekulasi di tengah masyarakat. Banyak warga menduga ada permainan oknum yang mengalihkan pasokan gas bersubsidi ke wilayah pedalaman karena perbedaan harga yang sangat tinggi. Di beberapa daerah pedalaman, gas melon kabarnya dapat dijual jauh di atas HET, menjadi ladang keuntungan bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, momen Nataru 2026 juga dicurigai sebagai alasan terjadinya penimbunan barang oleh pengecer untuk dijual dengan harga tinggi saat permintaan memuncak.
“Banyak yang bilang sengaja ditahan. Nanti kalau sudah dekat Natal dan Tahun Baru, mereka lepas dengan harga gila-gilaan. Kami orang kecil yang jadi korban,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kenaikan harga yang mulai terasa sejak awal Desember ditambah kelangkaan masif membuat situasi kian mendesak. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama aparat penegak hukum segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pangkalan-pangkalan yang diduga bermain nakal.
Jika benar ada praktik pengiriman ilegal ke pedalaman atau penimbunan untuk keuntungan pribadi, maka hak subsidi warga kurang mampu di kawasan perkotaan Delta Pawan telah dirampas secara terang-terangan.
Di tengah hiruk-pikuk menjelang tahun baru, para pedagang kecil seperti Ijul hanya menginginkan satu hal: ketersediaan gas dengan harga wajar agar dapur mereka tetap mengepul.(mr)
