Air Upas Darurat Narkoba: Anak SD Bisa Beli Narkoba dengan Rp20 Ribu, Warga Minta Penindakan Hukum Tegas

Teks Foto : Gambar Ilustrasi Via Google

KETAPANG, MENITNEWS.id – Kecamatan Air Upas di Kabupaten Ketapang kini berada dalam situasi darurat narkoba yang makin mengkhawatirkan. Peredaran narkotika di wilayah ini dinilai sudah tidak terkendali. Ironisnya, narkoba bukan lagi hal asing bagi masyarakat. Bahkan, anak-anak sekolah dasar pun kini bisa mendapatkan barang haram tersebut hanya dengan uang Rp20 ribu.

Kondisi ini disuarakan oleh Goda Tohan, seorang pemuda setempat yang aktif mengampanyekan bahaya narkoba melalui media sosial. Ia menyatakan keresahan masyarakat Air Upas telah mencapai titik tertinggi, sebab narkoba bisa diakses secara terbuka dan bebas, tanpa ada langkah tegas dan nyata untuk menghentikannya.

“Saya sebagai pemuda di Air Upas ini sangat was-was. Saya aktif menyuarakan keresahan masyarakat terkait peredaran narkoba. Kita lihat sendiri di lapangan, pengguna ditangkap, tapi pengedar malah seolah bebas berkeliaran. Ini menimbulkan pertanyaan besar bagi kami, apakah ada permainan di balik ini semua?” ujarnya dengan nada tegas.

Goda mengungkapkan bahwa keluarganya juga menjadi korban. Sang adik, kata dia, pernah terjerat sebagai pengguna narkoba. Pengalaman pribadi ini membuatnya semakin yakin bahwa pemberantasan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat, melainkan membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat, terutama kalangan pemuda.

“Kami siap dilibatkan oleh pihak kepolisian. Kami bisa jadi mata dan telinga aparat. Tapi selama ini belum ada langkah konkret untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pemberantasan narkoba. Kami menunggu itu,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa banyak warga memiliki keresahan serupa, namun merasa tidak berdaya. Salah satu bentuk kekecewaan adalah belum optimalnya peran Subpolsektor yang dibangun dengan dana swadaya masyarakat, yang sebelumnya sempat menjadi harapan besar.

“Awalnya kami punya harapan besar saat subpolsektor dibangun di Air Upas, apalagi itu pakai dana dari masyarakat. Kami pikir ini bisa jadi solusi untuk menekan peredaran narkoba. Tapi nyatanya belum berjalan maksimal. Bahkan muncul opini liar di masyarakat bahwa maraknya narkoba ini diduga ikut dipupuk oleh oknum-oknum aparat itu sendiri,” tambahnya.

Goda juga berharap agar Kapolres Ketapang yang baru dilantik dapat membawa perubahan nyata dan menjawab harapan warga.

“Kami harap Kapolres yang baru bisa lebih peka dan menaruh perhatian khusus pada Air Upas. Kami masyarakat siap dilibatkan dalam pemberantasan narkoba. Kami bisa jadi mata dan telinga aparat. Jangan sampai masyarakat terus curiga karena fakta di lapangan tidak sejalan dengan harapan,” tegasnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Air Upas, Agus Purwanto, juga menyampaikan kegelisahan yang sama. Ia mengatakan bahwa peredaran narkoba bukan hal baru di wilayahnya, dan bahkan masyarakat sudah mengetahui siapa saja aktor di balik peredaran tersebut.

“Siapa bandar dan pengedar narkoba di Air Upas ini bukan rahasia lagi. Masyarakat tahu, kami tahu. Tapi yang terjadi, yang ditangkap hanya pemakai dan kaki tangannya saja. Bandarnya tetap aman. Maka wajar kalau masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah mereka ini punya pelindung?” katanya.

Agus mengakui bahwa pemerintah desa memiliki keterbatasan dalam hal penindakan. Yang bisa mereka lakukan hanya edukasi dan imbauan. Namun melihat makin meluasnya peredaran narkoba hingga menyasar anak-anak, ia menilai situasi ini sudah sangat mengkhawatirkan.

“Kami sebagai pemerintah desa juga merasa malu dengan tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Air Upas ini. Bahkan sekarang, anak-anak SD pun sudah bisa memakai narkoba. Mereka beli hanya dengan uang Rp20 ribu. Coba bayangkan, seberapa mudah akses narkoba di sini?”

Tak hanya merusak masa depan generasi muda, peredaran narkoba juga memicu meningkatnya angka kriminalitas. Menurut Goda, belakangan ini muncul peningkatan kasus pencurian, perkelahian, hingga pembakaran rumah warga, yang diduga kuat terkait dengan efek penyalahgunaan narkoba.

“Bukan cuma narkoba yang jadi masalah. Tapi karena narkoba, muncul kejahatan lain. Ada pencurian, perkelahian, bahkan baru-baru ini terjadi pembakaran rumah. Ini sudah sangat memprihatinkan,” jelasnya.

Masyarakat berharap agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum bisa bertindak lebih serius dan tidak hanya menangani kasus ini di permukaan. Salah satu aspirasi kuat warga Air Upas adalah pembentukan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Kabupaten Ketapang.

“Kami sangat berharap pembentukan BNN di Ketapang bisa segera direalisasikan. Karena kalau tidak, peredaran narkoba ini akan semakin menggila. Bahasa kasarnya, narkoba di Air Upas ini sudah seperti jual kacang. Semua orang tahu, semua orang bisa beli, semua orang bisa pakai,” kata Goda dengan nada kecewa.

Kondisi darurat narkoba di Air Upas kini tidak hanya menjadi persoalan keamanan, melainkan menyangkut masa depan daerah. Warga mendesak agar aparat tidak hanya menyentuh permukaan dengan menangkap pengguna dan kaki tangan, tetapi juga menelusuri dan menindak tegas jaringan pengedarnya.

Mereka juga berharap agar masyarakat tidak hanya dijadikan penonton. Jika pihak kepolisian bersedia melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat, maka kerja-kerja pengawasan dan pencegahan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Desakan pembentukan BNN Kabupaten Ketapang pun semakin menguat. Bagi warga Air Upas, ini bukan sekadar wacana, tapi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan generasi muda dari jurang kehancuran akibat narkoba.(*)

Berita Terkait