
NYALAKAN MERIAM : Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, menyalaman Meriam Pusaka Padam Pelite di di Keraton Matan, Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Rabu (4/3).
KETAPANG, MENITNEWS.id – Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, mengatakan silaturahmi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Salah satunya pada momen suci Ramadan melalui agenda buka puasa bersama.
“Ini menjadi kesempatan istimewa bagi saya untuk mempererat tali persaudaraan dengan seluruh elemen masyarakat,” ungkap Alex saat menghadiri acara buka puasa bersama dengan Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan Tanjungpura (Ikkramat) di Keraton Matan, Kelurahan Mulia Kerta, Rabu (4/3).
Kedatangan rombongan bupati disambut dengan penuh kehormatan melalui serangkaian prosesi adat kerajaan yang kental. Dimulai dengan atraksi Silat Kutemare yang memukau dan pengalungan syal kerajaan. Suasana sakral semakin terasa saat prosesi diawali dengan dentuman Meriam Pusaka Padam Pelite.
Sebagai bentuk penghormatan dan doa restu, prosesi dilanjutkan dengan ritual Tepung Tawar. “Bagi saya, tradisi Tepung Tawar ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah warisan budaya Melayu yang sarat makna penyucian diri, keselamatan, serta harapan kebaikan bagi tamu yang dimuliakan,” paparnya.
Dalam kesempatan tersebut, Alex kembali menegaskan komitmen bahwa Ketapang adalah rumah besar bersama bagi semua golongan. “Sebagai pemimpin bagi semua suku dan agama, saya memandang keberagaman ini adalah kekuatan utama kita,” ujarnya.
Menurutnya, Keraton Matan bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan aset negara dan daerah yang sangat berharga. Sebagai warisan luhur, Keraton perlu terus menjadi perhatian semua pihak agar nilai-nilainya tetap hidup dan menjadi kompas moral bagi generasi mendatang.
“Ada kebanggaan tersendiri saat saya turut serta menyalakan Meriam Padam Pelite sebelum waktu berbuka tiba. Penyulutan meriam pusaka yang telah berusia ratusan tahun ini adalah bagian dari upaya kita bersama dalam melestarikan sejarah dan menjaga marwah daerah,” katanya.
Alex sangat mengapresiasi bagaimana keluarga besar Ikkramat merawat benda pusaka mereka, termasuk sepasang meriam pusaka (laki-laki dan perempuan) yang masih aktif hingga kini. Menjaga tradisi dan aset seperti ini adalah bagian dari tanggung jawab untuk memastikan identitas Ketapang tetap kokoh.
“Melalui sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga adat, saya berharap Ketapang terus tumbuh sebagai rumah yang nyaman, damai, dan penuh penghormatan terhadap akar sejarahnya bagi kita semua,” harapnya. (*)
