
KETAPANG, MENITNEWS.id — Keluarga empat pekerja yang diduga mengalami kecelakaan kerja di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang, Rabu (21/1/2026), kembali mengungkap fakta lain terkait insiden tersebut. Selain menyoroti tidak tersedianya ambulans perusahaan, keluarga korban juga menyebut pengawas dari pihak vendor tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Riko, salah satu anggota keluarga korban, mengatakan insiden terjadi sekitar pukul 16.00 WIB atau sebelum jam empat sore, saat para pekerja tengah melakukan aktivitas di area cerobong pembakaran. Ia mengaku melihat langsung kendaraan pertama yang membawa dua korban keluar dari area PLTU.
“Kejadiannya sekitar jam empat kurang. Saya lihat sendiri mobil pertama yang membawa dua korban keluar,” ujar Riko, Rabu malam.
Lebih lanjut, Riko menyampaikan bahwa saat peristiwa terjadi, pengawas dari pihak vendor tidak berada di tempat. Menurut informasi yang diterimanya, pengawas tersebut disebut sedang pergi keluar lokasi untuk membeli gorengan bagi para pekerja.
“Pengawas vendornya tidak ada di lokasi waktu kejadian. Katanya sedang pergi beli gorengan untuk pekerja,” ungkapnya.
Riko juga menegaskan bahwa proses evakuasi korban pertama tidak menggunakan ambulans perusahaan, melainkan kendaraan biasa. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan lemahnya kesiapan penanganan darurat dan penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di area kerja berisiko tinggi seperti PLTU.
“Ambulans perusahaan tidak ada. Korban pertama dibawa pakai mobil biasa,” katanya.
Hingga malam hari, keluarga korban mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak manajemen PLTU Ketapang maupun perusahaan vendor terkait kondisi para pekerja dan kronologi lengkap kejadian. Keluarga juga menyatakan tidak diizinkan masuk ke area perusahaan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan keempat korban merupakan pekerja dari vendor PT Limas yang sedang melakukan pekerjaan perawatan (maintenance) di area PLTU Ketapang. Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PLTU maupun pihak vendor belum memberikan keterangan resmi.
Insiden ini menambah sorotan terhadap pengawasan kerja dan penerapan K3 di lingkungan PLTU Ketapang, khususnya terkait keberadaan pengawas lapangan dan kesiapan fasilitas darurat saat aktivitas kerja berlangsung.(mr)
