
LANTIK : Pengurus DPD FKOB Ketapang dilantik. Sementara itu, Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, mengikuti tradisi adat suku Bugis, Mattopang Badik di Pendopo Bupati Ketapang.
KETAPANG, MENITNEWS.id – Dewan Pengurus Daerah Forum Komunikasi Orang Bugis (DPD FKOB) Ketapang, resmi dilantik. Pelantikan berlangsung di Pendopo Bupati Ketapang, Sabtu (2/8). Daeng Jaidan dilantik sebagai Ketua DPD FKOB Ketapang hingga 2029.
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, yang hadir dalam kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum DPP FKOB dan Ketua DPW FKOB Provinsi Kalimantan Barat atas kehadiran dan kontribusinya dalam membesarkan organisasi ini.
Dia berharap agar FKOB dapat berperan aktif mempererat persaudaraan lintas etnis dan turut serta mendukung pembangunan daerah.
“Saya memang menjadi pembina bagi seluruh organisasi etnis dan budaya yang ada di Kabupaten Ketapang. Amanah ini saya pandang bukan sekadar jabatan simbolik, tetapi sebagai bentuk nyata tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memfasilitasi keberagaman budaya yang hidup rukun di Bumi Kayong,” ungkap Alex.
Alex juga berterima kasih kepada masyarakat Bugis atas dukungan dan kepercayaannya selama ini.
“Saya bangga melihat semangat masyarakat Bugis di Ketapang yang terus menjaga adat, adab, dan budayanya. Rasa memiliki terhadap jati diri seperti inilah yang memperkaya Kabupaten Ketapang sebagai rumah bersama,” kata Alex.
Dia juga mendukung sepenuhnya rencana pembangunan Rumah Adat Bugis Saoraja di kawasan Jalan Lingkar. Rumah Saoraja bukan sekadar simbol arsitektur, tetapi juga representasi nilai-nilai luhur dan kearifan budaya Bugis yang harus kita rawat bersama.
Alex berpesan kepada FKOB agar menjadi organisasi yang inklusif, yang menjalin kemitraan dengan semua etnis, dan mampu mendukung visi pembangunan Ketapang. Dia juga menyambut baik semangat para pengurus FKOB untuk menjadikan organisasinya bukan hanya wadah orang Bugis, tetapi juga mitra bagi seluruh masyarakat.
Alex menegaskan pentingnya pelestarian sejarah dan situs-situs budaya yang mencerminkan perjalanan panjang orang Bugis di Tanah Kayong ini.
“Kita tahu, jejak orang Bugis di Tanjungpura telah tercatat sejak 1710 Masehi. Artinya, hubungan ini bukan sekadar soal asal-usul, tapi telah menjadi bagian integral dari sejarah dan kebudayaan daerah kita. Pelestarian warisan ini adalah tanggung jawab kolektif,” paparnya.
Alex menegaskan, Ketapang adalah rumah besar bagi semua. Apapun latar belakang suku dan budaya, dia mengajak untuk menjaga nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur.
Pemerintah Kabupaten Ketapang berencana akan melaksanakan Festival Budaya Multi Etnis. Festival ini dirancang sebagai ajang silaturahmi budaya dan ruang ekspresi bagi seluruh etnis di Ketapang. “Tujuannya satu, agar kita hidup rukun, saling menghargai, dan terus menjunjung tinggi adat, adab, dan budaya yang kita warisi,” tegasnya.
Selain itu, Alex juga mengapresiasi komitmen FKOB untuk memperkuat jejaring budaya hingga ke tingkat internasional. Rencana pelantikan FKOB di Johor dan Singapura, serta partisipasi dalam festival budaya internasional, merupakan langkah baik dalam memperkenalkan identitas budaya kita ke dunia.
Sehari sebelumnya, FKOB melaksanakan salah satu tradisi adat suku Bugis, Mattopang Badik, yaitu prosesi penyucian pusaka badik yang merupakan simbol kehormatan, keberanian, dan kearifan leluhur.
Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya, sekaligus ungkapan kecintaan terhadap adat dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi seperti Mattopang Badik bukan hanya seremoni simbolik, tetapi warisan spiritual dan budaya yang perlu dirawat, dihidupkan, dan diwariskan.
Prosesi adat Mattopang Badik ini dipimpin secara langsung oleh Forum Komunikasi Orang Bugis (FKOB). Hadir dalam kesempatan ini Ketua Umum FKOB, Ketua DPW FKOB Provinsi Kalimantan Barat, serta Ketua DPD FKOB Kabupaten Ketapang terpilih, Daeng Jaidan. Kehadiran para tokoh ini menambah nilai kehormatan dan makna dari acara yang sakral ini. (*)
